Sunday, February 20, 2011

Sebuah Keinginan


    Lama tak posting! Yah, seminggu ini saya benar-benar tak punya waktu luang untuk blogging. setiap waktu luang yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berlatih, musik dan tarian adat untuk nilai ujian praktek kesenian. Belum lagi segala ujian dan try out yang bertumpuk-tumpuk. Ukh! Saya minta maaf, kepada tetangga yang sudah berkunjung ke sini tapi belum juga mendapat kunjungan balik dari saya....

      Mungkin saya belum bisa post yang aneh-aneh dulu. Jadi sekarang saya mau post cerpen saja, yang Alhamdulillah telah dimuat di koran Singgalang, edisi rabu, 16 Februari 2011, beredar di Sumatra Barat dan sekitarnya...
Enjoyed it! :)


Sebuah Keinginan
 By: Aul Howler (Nama pena. Yang di koran nama asli)

“Titt… titt… titt…”
            Terdengarsuara-suara aneh. Berdenging, berulang-ulang. Nyaring, mengiang-ngiang. Miripsuara jarum detik, tapi lebih tinggi dan terdengar bernada. Lagipula jarumdetik bunyinya tik-tik-tik, bukan tit-tit-tit. Suara itu berbunyi lagi danlagi, seakan tiada akan henti. Dan tak ada suara lain selain tit-tit-tit yangmemekakkan telinga itu. Tak ada? Ya, tak ada. Hanya suara itu saja.
            
            Tidak,tidak. Samar-samar aku bisa mendengar suara lain. Suara denyut. Berangkai duadua, mengalun dengan ritme yang sedikit bimbang, ragu-ragu. Mungkin karenahanya terdengar samar, kadang-kadang tak kedengaran. Suara apa itu? Rasanyapernah kudengar.

Hmmm… Oh, iya! Suaranya mirip suaradegup jantung si Raka, saat kulekatkan stetoskop di dadanya waktu praktek dijam olahraga. Dulu, semasa SD.

           Ah, tapidia kan sudahpindah ke Jakarta?Mustahil yang kudengar sekarang degup jantungnya. Apakah degup jantung ibu?Atau ayah? Atau Mira? Ah, kurasa itu juga tak mungkin. Aku tak punya stetoskopsekarang.
             
            Apa inisuara degup jantungku? Ya, ya. Mungkin suara degup jantungku. Sebab tak adasuara orang di sini, selain bunyi tit-tit-tit sial itu, belum juga mauberhenti. Lucu juga, suara tit-tit-tit dan suara degup jantungku bila disimakbaik-baik seperti musik. Mungkin aku bisa bernyanyi?

            Ah, kenapaini? Mulutku tak mau terbuka? Biasanya bibirku bergerak bila aku hendakbernyanyi, atau bersenandung. Tapi sekarang, kok tak bisa? Ah, biar kucobasekali lagi. Ummph… Umphh… Iya! Benar-benar tidak bisa. Bahkan aku mulai merasatak yakin mulutku ada. Benar-benar serasa tak ada. Ya Tuhan, kemana perginyamulutku?

            Ah, masaiya mulutku tak ada? Coba kuraba dulu. Urgh…! Urgh…! Kenapa ini? Kenapatanganku juga tak bisa digerakkan? Urgh… iya! Tidak bisa. Masih tidak bisabergerak. Bagaimana ini? Aduh, bagaimana ini?

            Ah, mungkinkalau aku membuka mataku, aku bisa melihat tanganku. Barangkali terkilir,makanya mati rasa. Baiklah, biar kucoba membuka mata. Aduh! Perih! Kenapa ini?Mataku juga tak bisa dibuka! Kenapa ini? Apa mataku terluka? Kenapa setiapkucoba untuk membukanya terasa perih?

            Ya ampun,apa-apaan ini? Kenapa ini bisa terjadi? Ah, pikiranku dan kecemasanku menumpukdi kepala, membuat kepalaku terasa berdenyut-denyut ngilu. Dan dahiku! Dahikuterasa ngilu sekali. Belum pernah aku merasakan hal ini. Kenapa ini? Ah, hatikutiba-tiba terasa sedih. Dan di bawah dahiku terasa hangat, seperti ada yangmengalir. Air matakah? Mustahil, aku tak pernah menangis lagi sejak umur tujuhtahun, saat Jeki memukul kepalaku dengan tangkai sapu hingga bengkak.

            Mengalirlagi. Terasa seperti air. Berarti ini memang airmata. Aneh sekali! Mataku takbisa terbuka tapi air mataku bisa keluar!

            “Mas! Mas!Arka menangis!!”
            Terdengarsuara wanita menjerit – Oh ya, aku baru sadar. Ternyata semua bagian tubuhkutak terasa fungsinya kecuali telinga. Aku bisa mendengar – dan wanita itu masihmenjeritkan kata Mas.

            Terdengarsuara langkah-langkah kaki. Beriringan. Adalangkah berat dan langkah-langkah kecil. Hmm… mungkin lebih dari satu orang.

            “Reni, kamujangan begitu. Aku paham kamu rindu sekali pada Arka. Tapi tak perlu sampai mengaranghal yang aneh-aneh begitu.” Suara pria itu terdengar parau.
            “Aku nggakbohong, Mas! Itu, lihat sendiri!”

            Terdengarlagi langkah kaki. Semakin dekat, bertambah dekat, dan aku merasa dahikudibelai. Tangan yang hangat. Aku suka dibelai seperti itu. Dahiku yang taditerasa ngilu perlahan mulai normal lagi.
            “Arka…Bangun lah nak… Ini Ibu. Ibu di sini nungguin kamu.”

            Ibu? Yaampun, Ibuku! Ibuu!! Ingin aku berteriak, tapi mulutku masih tak terasa. Akumasih tak bisa bicara, apalagi berteriak. Tangan. Tanganku pun masih belum bisadigerakkan. Aku ingin memegang tangan ibu yang masih membelai dahiku. Ahh…tanganku tak terasa juga. Mata. Aku ingin melihat Ibu. Aku ingin melihat Ibuku.Arghh... Tapi mataku juga tak bisa dibuka. Semuanya masih gelap. Gelap sekali.Seperti malam hari di dalam kamar, tanpa lampu. Benar-benar gelap, tak ada yangbisa dilihat selain hitam.

            “Arka,bangunlah. Ini Ayah. Ini ayah nak.”
            Terasasebuah tangan lagi. Yang ini rasanya agak kasar dan kaku, tapi juga hangat.Seperti tangan ibu. Ayah! Ayahku! Oh, Aku ingin sekali melihat ayah. Aku inginsekali menggenggam tangan ayah. Aku ingin sekali bilang, “Ayah, Arka sayang Ayah”.Tapi tak bisa. Mata, tangan dan mulutku masih tak bisa diapa-apakan.

            “Kak, ayobangun. Aku kangen kakak,”
            Siapa itu?Kedengarannya seperti suara seorang gadis. Siapa? Kenapa dia memanggilku kakak?Aku tak punya adik sebesar itu kan?Adikku Mira masih cadel, umurnya baru tiga setengah tahun. Oh, mungkin initemanku, atau anak tetangga?

            Ah, disekitarku telah berkumpul keluargaku. Keluarga yang sangat aku sayangi. Tapiaku tak bisa apa-apa sekarang. Mulutku tak bisa bicara. Tanganku tak bisa digerakkan.Dan mataku, belum bisa kugunakan untuk melihat mereka. Bagaimana caranya mengatakan“Aku sayang kalian.” kepada mereka? Bagaimana caranya memberitahu mereka bahwaaku mendengar mereka bicara?

            Ah,tiba-tiba hatiku menjadi sedih lagi. Dadaku terasa sesak, menahan kesedihan.Dan tanpa kusadari, ada air lagi yang mengalir di pipiku.
            “Ayah! Ibu!Kakak menangis!” gadis itu menjerit histeris.
            “Arka, iniIbu nak. Ini ibu”
            “Di sinijuga ada Ayah, nak”
            “Kak, Akujuga di sini. Ayo bangun”

            Dan suaraorang-orang di sekitarku menjadi-jadi. Berulang-ulang. Berkali-kali namakudisebut. Aku mendengar mereka. Aku ingin mereka tahu itu. Tapi aku masih belumbisa. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluarkan airmata. Mereka semakin histerisbicara, memanggil-manggilku untuk bangun. Ah, kepalaku jadi ngilu.Berdenyut-denyut. Sakit.

            Terdengarsuara pintu terbuka, dan suara ibu terdengar lagi, “Dokter! Arka mengeluarkanair mata! Apa itu tanda dia telah sadar?”

            Hening. Takterdengar suara jawaban. Kali ini suara ayah yang terdengar, dengan pertanyaanyang sama. Tapi masih hening, tak ada jawaban.

            Saat suaragadis yang memanggilku kakak tadi terdengar juga, dengan pertanyaan yang masihsama, barulah terdengar suara lain. Suara wanita yang sudah berumur.
             “Mungkindalam matanya ada debu, sehingga air matanya secara alami keluar,”
            “Tapi Dok,kalau dia menangis berarti dia sudah sadar, kan?” Ibu bersikeras.
            Heninglagi. Lalu dokter menjawab, “Mungkin begitu bila matanya terbuka. Tapi ini…”
            Ah, akusudah sadar kok! Aku bisa mendengar kalian semua! Aku bisa mendengar dokter,ibu, ayah dan gadis itu bicara. Aku sudah sadar, hanya saja aku tak bisamembuka mata!
            Terdengarsuara pintu ditutup, dan suara ibu menangis sesenggukan.
            “Arka.Bangun lah, Nak. Ibu ingin dengar kamu memanggil ibu. Seperti terakhir kalisebelum…” Suara ibu berhenti sejenak, “Sebelum tawuran yang sial itu.”
           


Ya Tuhan. Aku ingat sekarang.Kemarin sekolahku diserang, oleh sekawanan siswa sekolah lain. Mereka melemparisekolahku dengan batu, membuat kaca di kelas yang paling ujung di dekat gerbangsekolah pecah. Murid-murid perempuan menjerit-jerit, dan kami para murid lelakitak bisa tinggal diam.

            Itu kalipertama aku ikut tawuran. Awalnya aku tak mau, karena ibu pernah berpesan agaraku tak boleh ikut-ikutan tradisi tawuran antar sekolah itu. Tapi karena Joyosi ketua kelas memaksa semua murid ikut menyerang balik, aku tak bisa menolak.Dimana harga diriku bila aku tak ikut berjuang membela sekolah? Aku tak maudianggap banci oleh teman-teman. Bisa-bisa aku tak punya teman lagi.

            Ternyatatawuran itu tak seseram yang dikatakan ibu. Menurut ibu, tawuran itumembahayakan keselamatan, karena seringkali ada yang membawa senjata. Buktinyatidak. Aku dan teman-teman merasa senang membalas lemparan batu. Aku merasaseperti pahlawan, dapat membela sekolah kami. Dapat menghancurkan sekolahmusuh.
            Menurutibu, orang yang ikut tawuran itu akan ditangkap polisi, karena seringkalisenjata yang dibawa pelaku tawuran itu melukai orang lain. Nyatanya tidak. Akudan teman-teman hanya melempari sekolah musuh kami dengan batu. Memecahkanjendela-jendelanya, atau membuat gaduh dengan membidik atap-atapnya.

            Tapi, akukaget saat beberapa temanku mengeluarkan bermacam-macam benda dari dalam tasmereka. Pisau-pisau kecil, ketapel, ikat pinggang bergagang plastik kerasdengan kepala baja, senapan mainan berpeluru paku, dan… Ya ampun! Ada samurai juga!

            Tentu akumemprotes mereka, karena itu bisa melukai orang lain. Salah-salah ternyatamusuh juga membawa senjata yang sama, dan bila ada teman mereka yang terluka olehpihak kami, maka kami juga berkemungkinan akan dilukai. Atau bisa-bisa kami ditangkappolisi. Tapi teman-temanku bilang, senjata itu hanya untuk berjaga-jaga.

            Dan akupanik, saat gerombolan tawuran berteriak. Saling mendekat mengacungkan senjatamasing-masing. Aku tak bergerak dari tempatku, hanya bisa menatap dengan tubuhgemetaran. Dari kejauhan bisa kulihat satu dua orang yang berkelahi di depan sana berdarah! Berdarah!

            Ibu benar!Apa yang dikatakan ibu benar! Tawuran itu berbahaya! Aku harus segera lari,harus! Sebelum semuanya terlambat. Aku harus segera pergi dari sini, batinku.

            Tiba-tibaterdengar sirine polisi. Aku makin panik. Bagaimana ini? Kalau aku ditangkapjuga, habislah aku. Bisa-bisa ibuku ikut dibawa-bawa. Tidak. Aku harus segerabersembunyi! Tak sempat lagi berlari. Aku harus sembunyi!

            Bisakulihat gerombolan tawuran itu berhamburan, berlarian ke segala arah. Sebagianmencari gang dan rumah-rumah penduduk sekitar untuk bersembunyi. Ah, akubersembunyi di rumah berpagar putih itu saja. Kelihatannya tidak ada orangnya.Mungkin tak ada yang akan menemukan kalau aku bersembunyi di sana.
             Segerakulompati pagar itu. Oh, tidak! Adadua orang murid sekolah musuhku tengah bersembunyi pula di sana. Tangan mereka berdarah, sepertinyatergores pisau saat berkelahi tadi. Mereka berdiri, mengambil ancang-ancangingin mengejar, membuatku segera berlari. Gawat kalau sampai merekamendapatkanku. Bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan. Bisa-bisa aku dilukai sebagaipembalasan sikap teman-temanku terhadap mereka.

            Ah, sekarangaku harus berpikir puluhan kali untuk mengingat teman-temanku sebagai teman.Mereka menjerumuskanku! Mereka menyebabkan aku mengalami hal ini. Aku tak mauberteman dengan mereka lagi! Dan secepat kubisa aku berlari, dan berlari.Hingga sebuah rumah tak berpagar sekonyong-konyong muncul di hadapanku.Baiklah, aku bisa bersembunyi di sana.Aku pasti aman dari polisi maupun musuh-musuhku.

            Sesaat akuterkesiap, saat mencari tempat bersembunyi di belakang rumah itu. Segerombolanmurid sekolah musuhku juga tengah bersembunyi di sana. Aku berusaha lari lagi, tapi merekamemegangiku. Kepalaku dihantam sebuah benda yang keras, dan aku tak ingatapa-apa lagi.
           

            Kurasakanair hangat meleleh lagi ke pipiku. Kalau begitu gara-gara tawuran itulahsekarang aku di sini. Terbaring di rumah sakit, dengan mata tak bisa dibuka,tangan dan kaki yang tak bisa digerakkan, dan mulut yang tak bisa berkata-kata.Sayup-sayup masih kudengar suara isakan ibu, disertai penyesalannya membiarkankuikut dalam tawuran itu. Perlahan makin kabur, tapi masih kudengar ibumenyebut-nyebut soal geger otak dan lumpuh. Dan sebelum semuanya makin kabur,sempat kudengar ayah menenangkan ibu, dan memintanya kembali bersabar sepertiyang telah mereka lakukan limatahun ini, selama aku koma.

 Oh, tidak! Apakah yang geger otakdan lumpuh itu aku? Dan apakah… Aku telah limatahun di rumah sakit ini, membuat orang tuaku menunggu? Bukannya tawuran itubaru kemarin? Tapi kenapa ayah bilang, limatahun mereka bersabar menungguku sadar dari koma? Kalau begitu… Apa suara gadistadi memang benar Mira, adikku yang dulu masih cadel? Ya Tuhan, benarkahdemikian…?

Air mataku mengalir lagi. Bisakurasakan hangatnya menjalari pipiku. Maafkan aku, ibu. Maafkan aku, ayah. Maafkankakak, Mira. Ah, aku ingin segera bangun dan minta maaf. Tapi mulutku terkunci,suaraku tak keluar. Tangan dan kakiku masih tak bisa digerakkan, dan matakumasih tak bisa dibuka. Kulakukan segala cara untuk membuat mereka tahu akutelah sadar dan dapat mendengar mereka. Aku punya keinginan. Aku ingin segeraminta maaf, sebelum aku...

Ah, kenapa ini? Tiba-tiba rasanyasulit bernafas. Dadaku terasa sesak. Badanku mulai terasa panas, dan rasanyamakin sulit bernapas. Adaapa ini? Rasanya makin sesak! Nafasku habis! Aku masih ingin bicara padakeluargaku! Aku masih ingin minta maaf!
  
Padang, 1 Desember 2010

Follow Me On Twitter 

No comments:

Post a Comment